News

Panen Raya, Petani di Mulyosari Dapat Rp 9 Miliar Semusim

166
×

Panen Raya, Petani di Mulyosari Dapat Rp 9 Miliar Semusim

Sebarkan artikel ini

Metro, djurnalis.com- Ditengah kenaikan harga pangan jenis beras, Masyarakat atau Petani di Kelurahan Mulyosari, Kecamatan Metro Barat menggelar panen raya. Hebatnya, di musim ini, seluruh Petani pemilik lahan di Kelurahan setempat mengklaim prediksi pendapatan mencapai Rp 9 Miliar.

Hitung-hitungan pendapatan itu tersebut dibeberkan Ketua Gapoktan Karya Manunggal, Mulyosari, Kecamatan Metro Barat, Lasmiati dalam kegiata Panen raya di hamparan persawahan Jalan Proklamasi, Kelurahan Mulyosari, Kecamatan Metro Barat, Senin (26/2/2024).

Menurutnya, dari 202 hektar lahan pertanian persawahan di Kelurahan setempat dikelola oleh 9 kelompok tani. Ratusan hektar areal persawahan itu ditanami padi varietas Cibatu dan Inpari 32.

Mewakili para petani Mulyosari, Dirinya mengaku bersyukur dengan nilai Gabah Kering Pungut (GKP) dari jenis tersebut yang dibandrol dengan harga Rp 7.500 perkilogram.

“Untuk itu, Kami tetap semangat dengan kondisi sekarang hasil padi yang seharga Rp 7.500 perkilogram tersebut, artinya Petani masih bisa menikmati hasil. Kalau GKP hanya sekitar Rp 4 Ribu itu kami tidak dapat apa-apa, kalau sekarang ini Alhamdulillah kita sangat bersyukur” kata dia saat dikonfirmasi Awak Media.

Lasmiati juga mengungkapkan bahwa rata-rata Petani Mulyosari mendapatkan hasil panen mencapai 6,5 ton gabah per hektar per Musim Tanam.

“Kalau hari ini yang kita panen luasannya 202 hektar, itu dari 9 kelompok tani dan semuanya mayoritas padi untuk MT1. Berdasarkan informasi yang kemarin sudah panen dan kita juga mengamati serta mencatat rata-rata dalam satu hektar itu dapat 6 sampai 6,5 ton per hektar,” ujarnya.

Setiap pamen, perhektarnya petani mampu meraup keuntungan mencapai Rp 45 Juta. Jika dikalikan dengan total luas lahan persawahan yang di panen pada musim ini, maka petani Mulyosari mampu meraup keuntungan mencapai Rp 9 Miliar.

“Hasilnya itu rata-rata 1 hektarnya mencapai Rp 45 Juta, tapi itu bruto. Kalau netto nya itu di potong operasional, ongkos tanam, olah lahan sampai pemanenan itu sekitar Rp 15 Juta. Maka rata-rata petani dapat Rp 30 Juta per hektar per musim,” bebernya.

“Kalau di wilayah Mulyosarii ada 202 hektar, tinggal dikalikan saja, maka muncul Rp 9 Miliar setiap kali panen. Kalau dua kali masa tanam ya dapat Rp 18 Miliar, tapi itu bruto. Kalau pendapatan bersih seluruh petani di tempat kami itu sekitar Rp 6 Miliar,” sambungnya.

Meskipun harga gabah tinggi, Lasmiati tetap berharap pemerintah dapat memastikan stock pupuk subsidi yang cukup bagi para Petani.

“Harapan kami lebih kepada pembinaan dan peningkatan hasil produksinya lagi, kemudian subsidi pupuk itu kan jatahnya ini berkurang, harapan kami kalau bisa agak terpenuhi lah walaupun kita juga mempertimbangkan kemampuan Negara yang mana saat ini pupuk subsidi sudah dikurangi jatahnya,” pungkasnya.

Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Metro, Heri Wiratno menyebut bahwa saat ini taraf hidup petani berangsur telah membaik.

“Kalau keuntungan petani jelas tinggi, karena satu hektar bisa mencapai Rp 45 Juta. Kalau biaya perawatan hingga panen mereka berkisar antara Rp 10 Juta sampai Rp 15 Juta, jadi lumayan lah,” ungkapnya.

Meskipun begitu, Kepala DKP3 tersebut juga mengungkapkan dampak kerusakan infrastruktur pertanian yang kerap dijumpai setiap kali memasuki musim panen.

“Ya memang benar, selama ini kita selalu ada alat berat di sawah dan merusak jalan usaha tani, pematang dan lain sebagainya,” ucapnya.

Dirinya berencana melakukan komunikasi dengan pihak ketiga dan petani dalam mengantisipasi rusaknya infrastruktur pertanian yang merugikan masyarakat.

“Nanti kita akan duduk bersama dengan pihak ketiga terutama yang memiliki kendaraan besar untuk panen dan petani sendiri serta pemerintah kecamatan untuk membicarakan ini,” jelasnya.

“Surat undangan mungkin kami hanya akan memberikan surat edaran agar infrastruktur itu dirawat secara bersama-sama. Paling tidak itu yang akan kita lakukan,” tutupnya.

Sementara itu, Wali Kota Metro, Wahdi menegaskan bahwa naiknya harga beras bukan disebabkan oleh minimnya pasokan.

“Yang pertama kali, kenaikan harga beras itu tidak hanya di Metro saja saya kira di seluruh Indonesia. Hanya tentu juga yang paling penting saya kira adalah ketahanan pangan. Kita ini mempunyai luasan lahan pertanian 2.948 hektar, di mana yang panen padi secara rutin itu kurang lebih 2.850 sekian hektar,” paparnya.

“Yang kedua kita mau melihat air, water bonding yang saya bilang tadi. Jadi kita bicara economic water scurity, ini juga berhubungan dengan ketahanan pangan. Saya kira kalau kita bicara tentang harga, upaya kita adalah meningkatkan hasil panen. Sehingga ketersediaan di pasar melimpah, jadi antara supply dan demonnya paling tidak itu seimbang,” lanjutnya.

Meski naiknya harga jual gabah menguntungkan petani dan naiknya beras menjadi keresahan masyarakat, namun Wali Kota mengatakan hal itu merupakan sebuah keseimbangan.

“Tetapi sekali lagi memang hal ini menguntungkan para petani, kalau dia dibuat ketentuan harga administrasi prize nya, yang mana sih yang seimbang untuk petani karena yang harus dipertimbangkan itu,” tuturnya.

“Dan upaya lainnya adalah mungkin pupuknya, Saya kira petani perlu disubsidi dengan alsintan dan saprotan. Kalau kita lihat posisi beras saat ini, apalagi kita menjelang ramadhan dan Idul Fitri, kalau saya tidak naik itu sudah bagus,” tandasnya. (Krs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *